Surabaya, 6 Agustus 2026
Beberapa minggu lalu, aku lihat seorang anak muda di kafe. Bukan lagi nunduk scroll TikTok. Dia malah sibuk pencet-pencet keypad Nokia kecil warna biru, terus ketawa sendiri. Entah main Snake, entah SMS-an sama temannya.
Aku langsung penasaran. Di zaman semua orang rebutan layar AMOLED dan kamera 108 MP, kok masih ada yang rela balik ke HP yang layarnya cuma dua inci?
Ternyata aku nggak sendirian dalam rasa penasaran itu.
Dumbphone: Bukan Sekadar Nostalgia
Kalau kamu perhatiin, beberapa bulan terakhir mulai banyak banget konten soal orang-orang yang sengaja "turun kelas" dari smartphone ke hp jadul. Mereka menyebutnya dumbphone—ponsel bodoh. Telepon bisa, SMS bisa, main Snake bisa. Udah. Nggak ada Instagram, nggak ada notifikasi e-commerce jam 11 malam.
Dan yang bikin menarik? Pelakunya kebanyakan justru Gen Z. Generasi yang lahir bareng internet. Generasi yang katanya nggak bisa hidup tanpa WiFi.
Awalnya aku pikir ini cuma tren Y2K biasa—kayak orang pakai kamera analog atau dengerin kaset. Tapi setelah ngobrol sama beberapa orang yang udah coba, ternyata alasannya lebih dalam dari sekadar estetik.
Capek Sama Layar yang Nggak Pernah Tidur
"Rasanya kayak otak aku nggak pernah istirahat," kata seorang teman yang sekarang pakai Nokia 3310 sebagai HP utamanya. "Tiap buka HP, pasti ada aja yang narik. Notifikasi, story, reels. Sekarang aku cuma buka HP kalau memang mau telepon atau SMS. Titik."
Dia nggak sendirian. Banyak yang bilang screen time mereka turun drastis. Yang tadinya 7-8 jam sehari, sekarang tinggal 2 jam. Tidur lebih nyenyak. Nongkrong sama teman jadi benar-benar ngobrol, bukan duduk bareng tapi masing-masing nunduk.
Istilahnya digital detox, tapi bukan yang ekstrem sampai buang semua gadget. Lebih ke: "aku mau pegang kendali lagi."
Flip Phone yang Bunyinya "Ceklik" Itu, Iya, yang Itu
Ada juga faktor nostalgia yang agak aneh. Banyak Gen Z yang kangen sama era yang bahkan belum mereka alami—buka-tutup flip phone Motorola Razr, dengerin ringtone polifonik Nokia, atau transfer lagu via Bluetooth yang lama banget tapi somehow seru.
Psikolog bilang ini namanya anemoia: rindu pada masa yang nggak pernah kita hidupi. Dan jujur, aku ngerti rasanya. Kadang aku kangen zaman SMS 160 karakter. Rasanya lebih... personal.
Di Indonesia Gimana?
Kalau kamu jalan ke Jatinegara atau Pasar Senen sekarang, mulai banyak anak muda yang hunting Nokia jadul. Harganya bervariasi—Nokia 1100 bisa dapat 150-300 ribu, tapi seri langka kayak Nokia 8800 atau 7280 bisa tembus jutaan.
Praktisnya? Banyak yang pakai sistem "dua HP." Dumbphone buat dibawa nongkrong dan jalan-jalan, smartphone ditinggal di rumah khusus buat Gojek, QRIS, sama mobile banking. Repot sedikit, tapi mereka bilang worth it.
Penutup yang Nggak Perlu Terlalu Rapi
Aku nggak bilang kamu harus langsung jual iPhone dan beli Nokia besok. Tapi mungkin pertanyaannya bukan "HP apa yang harus aku pakai?" Melainkan: "Kapan terakhir kali aku duduk diem tanpa merasa perlu ngambil HP?"
Kalau jawabannya bikin kamu agak nggak nyaman, mungkin rasa penasaran kecil itu layak dituruti.
Coba aja. Siapa tahu bunyi "ceklik" flip phone itu lebih menenangkan dari yang kamu kira.