Selasa, 18 Agustus 2026

Nostalgia & Realita: Ke Mana Perginya HP Lokal Indonesia di Tahun 2026?

Bos, coba tutup mata sebentar. Ingat tidak, sekitar tahun 2012 sampai 2015? Waktu itu kalau kita masuk ke konter HP di pasar atau pinggir jalan, etalase kacanya penuh dengan merek-merek yang namanya akrab di telinga orang Indonesia: Nexian, Mito, Evercoss, Advan, Cross, IMO, HiMax, Luna.
Pelanggan saya dulu sering datang dengan bangga sambil pamer: "Mas, ini HP baru, dual on! Bisa dua nomor sekaligus, ada TV-nya juga, harga cuma 500 ribu!"
Ilustrasi konter HP jadul dengan etalase berisi HP merek lokal (Evercoss, Mito, Advan) yang perlahan berubah menjadi konter modern dengan smartphone terbaru, menggambarkan transisi zaman.
"Dulu raja konter, sekarang 'pindah dapur'. Tapi mereka tidak pernah benar-benar pergi. 📱🇮🇩"
Zaman itu, HP lokal adalah raja konter. Mereka menang di harga, menang di fitur "ajaib" (TV analog, speaker super keras, baterai awet berminggu-minggu), dan menang di hati masyarakat yang ingin punya HP tanpa harus jual sawah.
Tapi sekarang, di tahun 2026, coba Bos jalan-jalan ke konter HP terdekat.
Apa yang Bos lihat? Etalase penuh dengan Xiaomi, Infinix, Tecno, OPPO, Realme, Samsung , . Nama-nama lokal? Hampir tidak terlihat di rak utama.
Jadi, apakah HP lokal Indonesia sudah mati? Apakah Advan, Evercoss, dan Mito sudah gulung tikar?
Ternyata tidak, Bos. Mereka tidak mati. Mereka cuma "pindah dapur".
Mari kita telusuri nasib mereka di tahun 2026 ini.

📜 Bagian 1: Kejayaan yang Pernah Ada (2010-2015)

Sebelum kita bicara soal 2026, mari kita kenang dulu masa kejayaan HP lokal.

Era "HP Batako"

Dulu, orang menyebut HP lokal dengan sebutan "HP batako" — besar, tebal, tapi tangguh. Fitur-fiturnya bikin orang tercengang:
  • Dual On / Dual SIM — saat brand luar masih pelit kasih satu SIM, HP lokal sudah kasih dua
  • TV Analog — bisa nonton sinetron tanpa kuota internet
  • Speaker Super Keras — cocok untuk dangdutan di pos ronda
  • Baterai 3000-5000 mAh — saat brand luar masih 1500 mAh

Era Merek Legendaris

  • Nexian — raja HP QWERTY dan fitur
  • Cross — yang kemudian rebranding jadi Evercoss
  • Mito — yang pernah menggandeng Deddy Corbuzier sebagai brand ambassador
  • Advan — yang dikenal dengan HP murah dan tablet
  • IMO, HiMax, Luna — yang sempat meramaikan pasar tapi umurnya pendek
Zaman itu, setiap bulan ada saja merek baru yang muncul. Konter-konter HP di pelosok desa pun kebanjiran produk lokal.

🔍 Bagian 2: Realita 2026 — Siapa yang Bertahan dan "Pindah Dapur"?

Sekarang, mari kita lihat satu per satu nasib brand lokal kita di tahun 2026.

1. Advan — Raja Tablet & HP 5G Murah 👑

Status: Sangat Aktif & Berhasil Beradaptasi
Advan adalah juara bertahan di antara semua brand lokal. Mereka sadar tidak bisa lagi perang harga di HP entry-level melawan Xiaomi atau Realme. Jadi, mereka geser fokus.
Apa yang mereka lakukan di 2026?
  • Mendominasi pasar tablet lokal — Advan Tab Sketsa 5 (tablet dengan stylus), Advan Tab VX Neo, Advan Tab A10 ,
  • Rilis HP 5G murah — Advan Macha 5G dan Advan X1, menyasar pasar pelajar dan pekerja yang butuh HP 5G tapi budget terbatas
  • Ekspansi ke laptop — Advan juga aktif di pasar laptop lokal untuk bersaing dengan Axioo
Kenapa Advan sukses? Karena mereka tidak memaksa diri jadi yang terbaik di semua hal. Mereka pilih ceruk yang tidak digarap serius oleh brand China: tablet untuk pelajar dan pekerja. Dan di ceruk itu, mereka jadi raja.

2. Evercoss — Fokus ke Edukasi & Entry-Level 🎓

Status: Masih Ada, Tapi Lebih Senyap
Dulu Evercoss adalah "raja konter" sejati. Sekarang, mereka lebih fokus ke perangkat edukasi dan tablet sekolah .
Apa yang mereka lakukan di 2026?
  • Rilis Evercoss M6A untuk pasar entry-level
  • Fokus ke tablet edukasi untuk program pemerintah dan sekolah
  • Masih menyasar segmen low-end dengan harga sangat terjangkau
Kenapa Evercoss "senyap"? Karena mereka tidak lagi mengejar pasar massal. Mereka pilih jalur B2B (Business to Business) dengan sekolah dan instansi pemerintah. Jadi, Bos mungkin jarang lihat Evercoss di konter, tapi tablet mereka ada di banyak ruang kelas.

3. Polytron — Kerajaan Elektronik & Motor Listrik

Status: Sangat Kuat, Tapi Bukan di HP
Polytron adalah brand lokal paling tangguh karena mereka tidak pernah bergantung pada HP saja. Mereka sudah jadi raksasa elektronik rumah tangga sejak tahun 1975.
Apa yang mereka lakukan di 2026?
  • TV pintar, kulkas, AC, speaker — masih jadi tulang punggung bisnis
  • Motor listrik — Polytron serius menggarap pasar motor listrik Indonesia
  • HP & tablet — masih rilis beberapa seri budget phone dan rugged phone (HP tahan banting), tapi bukan fokus utama
Kenapa Polytron kuat? Karena mereka tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang. Saat bisnis HP lesu, bisnis elektronik rumah tangga dan motor listrik mereka jadi penyelamat.

4. Mito Mobile — Gadget Anak & Feature Phone 👶

Status: Masih Ada di Ceruk Spesifik
Mito yang dulu terkenal dengan HP "dual on" sekarang lebih banyak bermain di gadget anak-anak dan feature phone .
Apa yang mereka lakukan di 2026?
  • Tablet edukasi untuk balita dan anak SD
  • HP tombol untuk lansia
  • Gadget pendukung seperti smartwatch anak
Kenapa Mito pilih ceruk ini? Karena orang tua relatif tidak peduli merek untuk gadget anak. Yang penting murah, tahan banting, dan ada fitur edukasinya. Di ceruk ini, Mito masih bisa bernapas.

5. Zyrex & Axioo — Fokus ke Laptop & TKDN 💻

Status: Aktif di Laptop, Bukan HP
  • Zyrex sempat bikin heboh dengan merilis Zyrex One untuk memenuhi aturan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri), tapi peredarannya di pasar bebas sangat terbatas
  • Axioo lebih memilih fokus ke laptop lokal dan perangkat komputer, bersaing dengan Advan laptop
Keduanya sadar bahwa pasar HP sudah terlalu padat, jadi mereka pilih "kue" yang lebih besar di pasar laptop dan perangkat kerja.

6. Brand yang Sudah "Tidur Panjang" 😴

Nama-nama legendaris ini praktis sudah tidak terlihat lagi di tahun 2026:
  • Nexian — raja HP QWERTY dulu, sekarang sudah tidak aktif
  • Cross — sudah rebranding jadi Evercoss
  • IMO, HiMax, Luna — muncul sebentar, lalu hilang ,

🤔 Bagian 3: Kenapa Mereka "Kalah" di HP Tapi "Menang" di Ceruk Lain?

Bos mungkin bertanya: "Kalau memang bagus, kenapa HP lokal kalah sama Xiaomi dan Infinix?"
Jawabannya jujur tapi menyakitkan: karena brand China main curang (dalam arti positif).

1. Skala Produksi Global

Xiaomi, OPPO, Realme — mereka produksi ratusan juta unit per tahun untuk pasar global. Karena produksi massal, harga komponen jadi sangat murah. HP lokal yang produksinya cuma ratusan ribu unit tidak bisa menyaingi harga itu.

2. Riset & Pengembangan (R&D) Raksasa

Brand China punya tim R&D ribuan orang dengan budget triliunan rupiah. Mereka bisa bikin kamera 108 MP, layar 120Hz, chipset gaming — semua dengan harga miring. HP lokal tidak punya kapasitas R&D sebesar itu.

3. Marketing Brutal

Xiaomi dan Infinix bakar uang untuk iklan, influencer, dan flash sale. Mereka bisa jual HP rugi di awal demi merebut pasar. HP lokal tidak punya napas keuangan selama itu.

4. Ekosistem & Layanan Purna Jual

Samsung dan OPPO punya service center di setiap kota. Xiaomi punya komunitas Mi Fans yang solid. HP lokal dulu sering dikritik karena service center yang terbatas dan suku cadang yang susah dicari.

Tapi, HP Lokal Menang di Ceruk yang Tidak Digarap Brand China:

  • Tablet edukasi untuk sekolah — Advan dan Evercoss merajai
  • HP untuk lansia dan anak-anak — Mito masih bertahan
  • Elektronik rumah tangga & motor listrik — Polytron jadi raja
  • Laptop lokal untuk TKDN — Zyrex dan Axioo punya pasar pemerintah

🇮🇩 Bagian 4: Kenapa Kita Harus Tetap Dukung Produk Lokal?

Bos, mungkin ada yang berpikir: "Kalau HP lokal kalah bagus, buat apa dibeli?"
Saya tidak akan bilang Bos harus memaksakan diri beli produk lokal yang tidak sesuai kebutuhan. Tapi, ada alasan kuat kenapa kita perlu tetap mendukung mereka:

1. Aturan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri)

Pemerintah punya aturan bahwa HP yang dijual di Indonesia harus punya komponen lokal minimal tertentu . Brand seperti Advan, Evercoss, dan Zyrex membantu memenuhi aturan ini dan membuka lapangan kerja di pabrik-pabrik lokal.

2. Kemandirian Teknologi

Kalau kita 100% bergantung pada brand luar, suatu saat kalau ada masalah geopolitik atau rantai pasokan global terganggu, kita tidak punya cadangan. Punya brand lokal yang bisa produksi HP, tablet, dan laptop adalah strategi ketahanan nasional.

3. Harga yang Lebih Terjangkau untuk Segmen Tertentu

Untuk pelajar yang butuh tablet untuk sekolah, atau orang tua yang butuh HP tombol sederhana, produk lokal sering kali lebih murah dan lebih sesuai kebutuhan daripada brand luar yang fiturnya berlebihan.

4. Kebanggaan Nasional

Bos, rasanya berbeda ketika kita pakai produk yang didesain dan dirakit oleh anak bangsa. Ada kebanggaan kecil yang tidak bisa dinilai dengan uang.

💭 Renungan Penjaga Warung: Mereka Tidak Mati, Mereka Cuma Berubah Bentuk

Sebagai penjaga warung yang sudah puluhan tahun, saya sering melihat siklus hidup produk. Ada yang datang bak meteor — terang benderang, lalu hilang tanpa bekas. Ada yang datang pelan-pelan, tapi bertahan puluhan tahun karena terus beradaptasi.
HP lokal Indonesia adalah tipe yang kedua.
Mereka tidak mati. Mereka cuma berubah bentuk.
Dulu mereka jadi HP "batako" di etalase konter. Sekarang mereka jadi tablet di tangan pelajar, motor listrik di jalanan, TV di ruang tamu, dan laptop di meja kerja pegawai pemerintah.
Mereka tidak lagi berteriak di rak utama konter. Mereka diam-diam bekerja di ceruk-ceruk yang tidak terlihat.
Dan saya belajar satu hal dari mereka: Tidak semua pertarungan harus dimenangkan di depan umum. Kadang, mundur selangkah dari panggung utama bukan berarti kalah. Itu artinya kita sedang mencari panggung lain yang lebih cocok untuk kita.
Advan tidak memaksa diri jadi "Xiaomi-nya Indonesia". Mereka pilih jadi "raja tablet lokal". Dan di panggung itu, mereka bersinar.
Polytron tidak memaksa diri jadi "Samsung-nya Indonesia". Mereka pilih jadi "raja elektronik rumah tangga dan motor listrik". Dan di panggung itu, mereka tak tergoyahkan.
Mungkin ini juga pelajaran untuk kita. Tidak semua orang harus jadi yang terbaik di bidang yang sama. Kadang, kita perlu menemukan "ceruk" kita sendiri — tempat di mana kita bisa jadi yang terbaik tanpa harus bersaing dengan raksasa.

💡 Penutup: Dukung yang Masih Ada, Kenang yang Sudah Pergi

Bos, kalau Bos punya kenangan dengan HP lokal — entah itu Nexian pertama Bos, Mito yang Bos kasih ke orang tua, atau Evercoss yang menemani masa sekolah — simpan kenangan itu. Itu adalah bagian dari sejarah teknologi Indonesia.
Dan kalau Bos sedang cari tablet untuk anak, HP sederhana untuk orang tua, atau sekadar ingin mendukung produk lokal — cari tahu dulu. Mungkin ada produk Advan, Evercoss, atau Polytron yang cocok untuk kebutuhan Bos.
Mereka tidak sempurna. Tapi mereka masih ada, masih berjuang, dan masih berusaha memberi yang terbaik untuk negeri ini.
Sampai jumpa di konter HP masa depan, Bos. Semoga nanti ada lagi merek lokal yang bisa bikin kita bangga. 📱🇮🇩

🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Artikel ini dirangkum dari data pasar smartphone Indonesia 2026, berita teknologi, dan pengamatan langsung di lapangan. Admin blog ini bukan analis pasar dan bukan jurnalis teknologi — hanya penjaga warung yang kebetulan suka mengamati konter HP. Jika ada kekeliruan informasi, mohon koreksi lembut di kolom komentar. Matur nuwun!

📖 KAMUS KECIL

  • TKDN — Tingkat Komponen Dalam Negeri, aturan pemerintah tentang kandungan lokal dalam produk elektronik
  • Entry-level — Segmen HP kelas bawah dengan harga terjangkau
  • Rugged phone — HP yang dirancang tahan banting, tahan air, dan tahan debu
  • B2B (Business to Business) — Model bisnis yang menyasar instansi/perusahaan, bukan konsumen langsung
  • R&D (Research & Development) — Riset dan pengembangan produk