Sore kemarin di sebuah kafe, aku menyaksikan sebuah ritual modern: seorang pemuda duduk menyamping, tubuhnya condong ke arah colokan di sudut, kabel charger terentang seperti selang infus, matanya cemas menatap angka di layar: 23%.
Dan aku sadar — itu aku, setiap hari.
Lalu tiba-tiba aku rindu satu hal: hp yang tidak pernah butuh dikhawatirkan.
Zaman Ketika Charger Tidur di Laci
Kalau kamu pernah hidup di era hp batu bata yang kokoh itu (Nokia 3310 dan kawan-kawannya), pasti ingat perasaan aneh ini: tidak peduli pada baterai.
Pagi terisi penuh, dipakai SMS beberapa kali, main Snake sekali-kali, malam masih hidup. Seminggu kemudian masih hidup. Bahkan ada yang lupa di mana chargernya — karena memang dipakai seminggu sekali.
Hp mengikuti kita. Bukan kita yang mengikuti hp.
Yang Sebenarnya Boros Itu Apa?
Tentu saja hp zaman sekarang "boros". Yang ia bawa bukan lagi telepon dan SMS: kamera, peta, dompet, ruang rapat, panggung konser, sampai perasaan orang lain — semua masuk satu layar. Bukan baterainya yang melemah; tanggung jawabnya yang bertambah. (Soal evolusi ini kutulis di 17-an Zaman HP Jadul — dulu hp adalah alat, sekarang ia adalah ruang tinggal.)
Maka aku tidak sedang menyalahkan teknologinya. Yang kurindukan adalah hal lain.
Yang Hilang Bukan Baterainya, tapi Ketenangannya
Hp jadul dulu memberi kita hak untuk tidak bisa dihubungi. Kalau sedang di jalan, di sawah, atau sedang ingin sendiri — tidak ada yang panik saat hp kita mati. "Batréne enték" (baterainya habis) adalah alasan yang lengkap dan diterima semua orang.
Sekarang? Baterai tinggal 10%, dada ikut berdebar. Ada notifikasi yang harus dibalas, ada story yang harus dilihat, ada dunia yang menuntut selalu "ada". Baterai tidak cuma habis — ia ikut menguras tenang kita.
(Suatu hari nanti kutulis artikel khusus tentang kecemasan bernama nomophobia ini. Untuk sekarang, cukup tahu: kalau kepalamu sering berisik di malam hari dan benda terakhir yang kamu sentuh adalah hp, mungkin Diary 02.17 juga tentang kamu.)
Cara Kecil Supaya Merasa Aman Lagi
Tidak perlu kembali ke hp jadul (kecuali kamu mau). Cukup kebiasaan kecil:
- Cas hp di ruang tamu, bukan di samping bantal. Beri kamar tidur masing-masing: untukmu dan untuknya.
- Satu kali makan sehari tanpa layar. Hp bisa menunggu; makanan hangat tidak.
- Satu jam mode pesawat dalam seminggu. Bukan karena kamu sedang terbang — tapi karena kepalamu butuh mendarat.
- Ganti kalimat di kepala: dari "aduh, baterai mau habis" menjadi "oh, waktunya istirahat."
Rindu Hp yang Tidak Membutuhkan Kita
Mungkin yang sebenarnya kurindukan bukan Nokianya — tapi diriku yang tidak membutuhkan hp. Diri yang bisa keluar rumah tanpa takut putus dari dunia, karena dulu dunia tidak ada di saku. Dunia ada di depan mata.
Baterai bisa diganti, dibeli, diisi ulang. Tapi ketenangan? Itu harus kita rebut sendiri.
Berapa persen baterai yang membuatmu mulai panik dalam 24 jam terakhir? Ngaku di komentar — di sini tidak ada yang menghakimi, kita semua pernah jadi pemuda berselang infus itu. 🔋
📖 KAMUS KECIL HARI INI
- Batréne enték — baterai habis; dulu alasan sosial paling sah untuk menghilang.
- Ngecas — mengisi daya; ritual harian manusia modern sepenting makan.
- Lowbat — kondisi dua digit ke bawah yang bikin jantung ikut berdebar.
- Mode pesawat — airplane mode; ternyata bisa dipakai untuk kepala, bukan cuma untuk terbang.
- Colokan — sumber listrik; rebutan paling sopan di kafe-kafe zaman now.
(Istilah "batre enték" dan saudara-saudaranya sudah lebih dulu kubahas di Kamus Jawa Modern: Apa Basane "Download", "Online", "Ngecas"?)